Anda suka? share!

Tengah menikmati suasana pagi yang cerah, kulihat serombongan pasangan suami istri memasuki sebuah bangunan distributor makanan tak jauh dari tempatku menginap. Saat itu aku telah menyelesaikan jadwal pekerjaan yang kebetulan mengambil lokasi di Pulau Bali. Ada yang menarik dari rombongan itu, mereka pasangan suami istri berjumlah kurang lebih 20 pasang dan berusia kira-kira 50-an tahun. Tidak seperti biasa, setiap rombongan tour yang datang ke Pulau Dewata ini selalu mengunjungi tempat-tempat wisata yang memang sudah terkenal hingga mancanegara. Tapi mereka beda, apa yang ingin mereka lihat dari distributor makanan tersebut? Rasa penasaranku menggerakan langkah ini untuk bergabung dengan peserta  rombongan itu sambil sesekali bertanya kepada mereka, tentunya dengan meminta ijin terlebih dahulu kepada pimpinan rombongan.

Rupanya mereka rombongan dari sebuah lembaga negara yang entah suami atau istrinya bekerja di lembaga itu dan akan memasuki masa pensiun. Mengunjungi distibutor makanan adalah salah satu sesi dari pelatihan yang berikan oleh lembaga tersebut kepada para pegawainya yang akan memasuki usia pensiun dengan tujuan setelah mengikuti pelatihan ini peserta akan termotivasi, terbuka wawasan dan tetap dapat berkarya secara mandiri. Sungguh suatu perhatian yang mengagumkan, apakah lembaga/instansi lain atau perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia juga memiliki konsep seperti ini?

Pelatihan memasuki masa pensiun atau biasa disebut juga pelatihan Pra-Purnabhakti memiliki jadwal selama 4 hari yang terdiri dari sesi klasikal dan kunjungan ketempat-tempat wirausaha. Saat mengunjungi Alam Boga kali ini adalah hari kedua, dimana hari sebelumnya para peserta mendapat motivasi di dalam kelas. Dalam motivasi tersebut, peserta juga dapat mengungkapkan rencana-rencana yang akan diwujudkan setelah pensiun nanti. Atmosphere keakraban dan kekeluargaan mewarnai Suasana kelas yang menjadi tempat berbagi baik secara informasi maupun inspirasi.

Alam Boga adalah sebuah perusahaan distributor bahan baku makanan seperti ayam organik, beras organik, bumbu-bumbu dapur dan lain sebagainya. Bahan dasar makanan tersebut di datangkan dari Australia dan New Zaeland yang didistribusikan untuk kebutuhan hotel dan restaurant termasuk kebutuhan ritail supermarket di wilayah Pulau Bali. Memang lingkup pendistribusian belum keluar Pulau Bali,  itu disebabkan oleh masih kurangnya pemenuhan atas permintaan hotel-hotel, restaurant/cafe maupun supermarket-supermarket yang ada di Bali akan bahan dasar makanan tersebut. Untuk itu Alam Boga mengajak peserta Pelatihan Pra-Purnabhakti menjadi mitra usaha dalam rangka memenuhi permaintaan pasar. Peserta dapat memilih salah satu produk atau lebih sesuai standar permintaan pasar baik secara kualitas maupun kemasan. Soal harga tentunya akan semakin bersaing sebab produk lokal lebih murah biaya pengirimannya ke gudang Alam Boga dibanding produk import dari Australia dan New Zaeland.

Tidak berbeda jauh dengan Alam Boga, Moena Fresh sebagai perusahaan distribusi buah juga mengajak rombongan untuk bermitra sebagai distributor atau penjual buah-buahan tersebut. Sedikit perbedaan dari segi produk dan konsep kemitraannya. Perbedaan tersebut didukung oleh sebuah survey para pedagang buah yang mengatakan bahwa mulai tahun 2007, buah-buahan import masih mendominasi pasar atau mencapai 60-70 persen dari total perdagangan buah yang ada di kawasan Denpasar dan sekitarnya. Dominasi buah-buahan impor tersebut disebabkan oleh pengadaannya yang bersifat kontinyu tidak terpengaruh oleh musim seperti anggur Australia, apel New Zaeland, apel Amerika, durian Monthong, lengkeng Cina dan Thailand, sankis, pear dari Cina dan Korea. Sementara buah-buahan dalam negeri sangat bergantung pada musim. Demikian pula dari segi penampilan, buah impor juga jauh lebih menarik ketimbang bual lokal. Namun ada juga buah lokal yang tetap menjadi primadona konsumen seperti jeruk Lumajang, jeruk Kintamani, melon, semangka, pepaya, pisang, nanas, manggis, duku, mangga, mangga putih, anggur produk Buleleng dan lain-lainnya. Jadi buah import maupun lokal tetap “oke” untuk dijadikan produk wirausaha yang menguntungkan.

Peserta juga diajak mengunjungi pusat kerajinan dan oleh-oleh khas Bali di bilangan Teuku Umar Denpasar. Buat yang ingin belanja terutama ibu-ibu atau hanya sekedar mencari inspirasi akan hoby membuat kerajinan tangan. Tak terasa sore menjelang dan rombonganpun harus kembali ke hotel untuk beristirahat. Saat aku pamit dengan pimpinan rombongan, mereka malah mengajakku mampir ke hotel tempat para peserta menginap di Tanjung Benoa, kebetulan sekali…ini saatnya aku cari tau tentang penyelenggara yang di tugaskan untuk acara Pelatihan Pra-Purnabhakti ini.

Dengan mengusung sebuah komitmen people, planet & profit, Greenlinecare mengaplikasikannya melalui pelatihan Pra-Purnabhakti yang dimulai dari tgl 14 Desember hingga 17 Desember 2010. Pelatihan ini hanya salah satu dari sekian banyak kegiatan yang dilakukan Greenlinecare dalam rangka berbagi dengan sesama agar dapat tumbuh dan berkembang serta  tetap menjaga kelestarian alam ini sesuai dengan komitmen mereka yaitu 3P (people, Planet & profit). Dengan peserta pelatihan Greenlinecare berbagi pengalaman bersama Green Business, sebuah komunitas wirausaha yang sudah berjalan dengan baik dan menghasilkan serta aman bagi lingkungan seperti Greenline Probio Chicken, ayam organik bebas antibiotik dan hormon; Greenlightcool E-Core Led, lampu penerangan yang hemat energi; Greenlinefood Organic Rice, beras organik bebas pestisida dan masih banyak yang lainnya.

Para pelaku bisnis tersebut bercerita banyak bagaimana mereka mengawali usaha mandirinya. Motivasi dan inspirasi serta kiat-kiat yang mereka lakukan saat awal kiprah di dunia usaha. Inilah yang dicoba untuk ditularkan kepada para peserta pelatihan. Seperti sebuah virus yang cepat menyebar, secercah harapan terbias di wajah pasangan yang beberapa saat lagi harus meninggalkan rutinitasnya di kantor. Sebuah virus positif mewabah, dengan spontanitas mereka banyak bertanya, banyak berkomentar dan banyak rencana dituangkan secara gambalang. Aura penuh semangat dan motivasi ini aku saksikan dalam sesi klasikal di hari ke 3.

Pada hari ke 4, para peserta pelatihan dihibur dengan mengunjungi Pura tertua di Pulau Dewata. Uluwatu, sebuah Pura yang berdiri eksotis di atas karang terjal dengan legenda masa lalu yang sarat dengan filosofi kehidupan ditambah banyaknya monyet berkeliaran bebas yang siap menjaili para pengunjung yang lengah akan aksesoris yang dipakai. Dilanjutkan dengan pertunjukan tari kecak yang menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun demikian, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.

Sungguh harmonis, bumi tempak kita berpijak, masyarakat dapat saling berbagi akan hal yang positif, bersama tumbuh dan berkembang hingga membuahkan hasil yang maksimal serta lingkungan tetap terjaga kelestariannya. Semua bersinergi dan berkesinambungan….majulah Greenlinecare. Masa pensiun bukan akhir sebuah kehidupan, justru itu awal munculnya tunas ide-ide kreatif akan sebuah karya yang sesungguhnya….tumbuh dan berkembanglah bapak dan ibu peserta Pelatihan Pra-Purnabhakti.

Komentar
Anda suka? share!