Anda suka? share!

Anda pastinya pernah melihat atau mungkin pernah mencoba berbagai macam permainan yang menggunakan media kartu sebagai alat bantunya, namun tahukah Anda lewat kreatifitas, imajinasi serta teknik kelincahan tangan dapat menghasilkan karya seni yang artistik, menarik bahkan unik.

            Wujudnya kotak persegi empat, deck kartu yang sering kita jumpai terkesan kaku dan biasa saja. Namun lewat sentuhan jemari para FLOURISHER (sebutan untuk pemain card flourish), kartu-kartu ini lahir menjadi seni yang artistik tanpa menampilkan unsur magis atau  sulap.

            Apasih card flourish? seni keterampilan tangan menggunakan kartu remi (freestyle), sehingga menghasilkan gerakan-gerakan indah dengan teknik bervariasi seperti card fanning membuat deck menjadi bentuk seperti kipas sehingga membentuk susunan kartu yang menarik.

           Pengertian ini berbeda dari “kecepatan tangan” yang biasa dipakai dalam magic. Kalau dalam hal magic, ‘kecepatan tangan’ bukanlah hal yang ingin ditunjukkan kepada penonton, tapi sebaliknya dalam card flourish, efek manipulasi terhadap deck kartu ini justru bagian yang memperlihatkan keindahan dan kesulitan gerakkan-gerakkan flourish itu sendiri.

            Adalah Indonesian Card Artist (ICA) sebuah komunitas yang mendalami seni card flourishing. ICA yang berdiri resmi 1 Februari 2009 ini, awalnya bermula dari lima orang flourisher Indonesia (Rama, Gior, Adi, Eddy dan Ndika) yang saling mengenal lewat jejaring sosial. Lalu menyusul 3 Flourisher lainnya yaitu Osa, Kiky, dan Irill. Seringnya mereka share ilmu dan berbagi pengalaman seputar hobi yang sama, terbersitlah niat mereka untuk mempunyai wadah yang menjadi rumah mereka agar bisa merangkul semua card flourisher dan card artist di Indonesia.

            Sejak saat itu anggota ICA semakin bertambah, dan perkembangan card flourish di Indonesia pun semakin muncul kepermukaan. Kini ICA memiliki lebih dari 2500 anggota yang berasal dari seluruh Indonesia dan Jakarta sebagai kiblatnya. Memiliki kurang lebih 1000 member di grup Facebook (Indonesian Card Artis) serta memiliki kurang lebih 600 follower di Twitter (@indocardist). “Indonesian Card Artist tidak hanya mempelajari seni card flourishing untuk dinikmati sendiri, tetapi juga bagaimana agar seni ini dapat dinikmati oleh orang lain, terutama laymen (orang yang tidak mempelajari card flourish)” ujar Sham Mingkid ketua regional Jakarta 2.

            Tak hanya melakukan kegiatan rutin seperti gathering mingguan, ICA juga mengadakan sebuah kompetisi sekitar setengah tahun sekali yang dinamakan “Indonesia Cardistry Contest (ICC). Kompetisi ini diadakan untuk memanggil card flourisher di Indonesia untuk berkreasi menunjukkan kemampuan mereka dan bersaing dengan flourisher lain. Salah satu prestasi yang membanggakan ICA diluar negeri yaitu Kaminari (rama) menjadi pemenang dalam kompetisi “Sybil with Fan” oleh handlordz.com dan Ndhika (dika) menjadi juara 3 dalam kompetisi UCC 2009. ICA juga pernah mengikuti WLD Contest pada tahun 2009. salah satu video dari kaminari yang berjudul “Drama” juga mendapat pengakuan sebagai salah satu video card flourish terbaik dari indonesia, sehingga masuk ke jajaran video-video card flourish dunia, di salah satu blog card flourish ternama: thecuso.info.

         Ternyata card flourish tak hanya di gandrungi kaum laki-laki saja, kaum hawa pun seperti Bella dan Puput sangat tertarik mendalamin card flourish. “Flourish itu unik, memacu andrenalin untuk melatih keterampilan tangan kita berimajinasi membuat deck card menjadi semenarik mungkin,” ujar bella. “untuk yang pengen belajar flourish kita harus yakin dulu kalau kita bisa, jangan pernah takut untuk mencoba, butuh tingkat kesabaran ekstra.” tambah puput.

            Harapan ICA semoga card flourish di Indonesia semakin berkembang. Semakin dapat diterima masyarakat Indonesia sebagai sebuah bentuk hiburan yang menarik, juga dapat terus dikembangkan oleh card flourisher sebagai sebuah seni pertunjukan, dan hobi yang membangun. Anda ingin mencoba ? (ES)

Komentar
Anda suka? share!