Anda suka? share!

Cak..cak..cak…cak…..cakcakcakcak….akapela yang dilantunkan dari sekelompok lelaki bertelanjang dada semakin keras memenuhi seantero jagad. Sekelompok lelaki tersebut mengeluarkan suara yang khas dan hanya syair cakcakcakcakcak…saja yang terdengar semakin berirama. Tak selang berapa lama muncullah seekor kijang emas nan cantik berlari kesana kemari dengan centil menggoda setiap mata yang memandangnya. Sang raja tergoda tuk memiliki si kijang emas nan elok, memburu mencoba menangkapnya hingga masuk terlalu dalam ke tengah hutan. Permaisuripun merasa cemas, karena telah sekian lama sang raja belum kembali dari dalam hutan dan langsung menitahkan pengawalnya untuk mencari sang raja. Rupanya kijang emas tadi adalah sebuah tipu daya dari si-angkara murka agar dapat menculik sang permaisuri.

Permaisuri berhasil di bawa ke istana si-angkara murka dan dijaga dengan ketat. Maka diutuslah se-ekor kera putih oleh sang raja untuk membawa kembali permaisuri kepangkuannya. Hampir seluruh bagian istana si-angkara murka dibakar oleh kera putih tersebut dan berhasil memboyong sang permaisuri. Si-angkara murkapun marah luar biasa dan terjadilah peperangan besar dua negara. Saat posisi sang raja terjepit, munculah seekor burung garuda utusan para dewata sebagai jawaban dari doa sang raja kepada para dewa. Dan akhir dari peperangan besar itupun dimenangkan oleh sang raja.

Itulah sepenggal episode yang dibawakan dalam sebuah sendra tari Kecak di Pura tertua Uluwatu Pulau Dewata. Pura yang kaya akan nilai sejarah dan nilai magis ini berdiri gagah di atas karang terjal setinggi sekitar 30 meter di tengah hantaman lautan Hindia nampak sangat eksotis. Sendra tari kecak digelar pukul 18.00 saat matahari tenggelam. Adegan demi adegan dalam sendra tari tersebut di latar belakangi oleh keindahan sunset yang begitu mempesona. Tak diketahui secara pasti darimana tarian Kecak berasal dan dimana pertama kali berkembang, namun ada suatu macam kesepakatan pada masyarakat Bali, Kecak pertama kali berkembang menjadi seni pertujukan di Bona, Gianyar. Sebagai pengetahuan tambahan kecak pada awalnya merupakan suatu tembang atau musik yang dihasil dari perpaduan suara yang membentuk melodi yang biasanya dipakai untuk mengiringi tarian Sahyang yang disakralkan. Dan hanya dapat dipentaskan di dalam pura. Kemudaian pada awal tahun 1930an seorang seniman dari desa Bona, Gianyar mencoba untuk mengembangkan tarian kecak dengan mengambil bagian cerita Ramayana yang didramatarikan sebagai pengganti Tari Sanghyang sehingga tari ini akhirnya bisa dipertontontan di depan umum sebagai seni pertunjukan.

Tari Kecak yang sering disebut “The Monkey Dance” bagi kalangan wisatawan merupakan tari dalam bentuk drama relative baru tetapi telah menjadi pertunjukkan yang sangat populer/terkenal dan telah menjadi pertunjukkan yang mesti ditonton baik bagi wisatawan domestik maupun luar negeri. Adegan-adegan tari kecak telah dipromosikan di beberapa poscard, buku petunjuk pariwisata dan lain-lainnya. Nama Kecak adalah adalah sebuah nama yang secara langsung diambil setelah suara “cak, cak” yang di ucapkan secara terus menerus sepanjang pertunjukan. Ada beberapa yang menerangkan bahwa kata atau suara “cak” sebenarnya mempunyai arti yang sangat penting dan significant di dalam pertunjukan.

Sebagai suatu pertunjukan tari kecak didukung oleh beberapa faktor yang sangat penting, terlebih dalam pertunjukan kecak ini menyajikan tarian sebagai pengantar cerita, tentu musik sangat vital untuk mengiringi lenggak lenggok penari. Namun dalam tari Kecak suara yang dihasilkan dari perpaduan suara angota cak yang berjumlah sekitar 50 – 70 orang semuanya akan membuat musik secara akapela, seorang akan bertindak sebagai pemimpin yang memberika nada awal seorang lagi bertindak sebagai penekan yang bertugas memberikan tekanan nada tinggi atau rendah seorang bertindak sebagai penembang solo, dan sorang lagi akan bertindak sebagai ki dalang yang mengantarkan alur cerita. Penari dalam tari kecak dalam gerakannya tidak mestinya mengikuti pakem pakem tari yang diiringi oleh gamelan. Jadi dalam tari kecak ini gerak tubuh penari lebih santai karena yang diutamakan adalah jalan cerita dan perpaduan suara.

Sungguh kaya negeri kita ini akan kebudayaan yang di tinggalkan para leluhur kita dahulu. Sudah sepantasnya kita mengerti dan menjaga akan kelestarian warisan itu. Dibalik riuh rendahnya suara cakcakcak, terbias cerita yang mengandung filosofi kebajikan, tidak ada tempat di bumi ini bagi sang-angkara murka, keadilan pasti akan muncul atas kehendak Yang Kuasa dan hendaklah kita dapat menjalankan Perintah Tuhan serta mengemban amanat dengan sebaik-baiknya jika kita dipercaya sebagai pemimpin.

Komentar
Anda suka? share!