Anda suka? share!

Mimpi itu adalah sebuah Perguruan Tinggi Kelautan Indonesia  ( oceAN COLlege)

Seorang gadis cantik yang berdiri di pintu masuk wahana perahu rakit begitu cekatan memungut sampah kecil bekas kemasan makanan ringan di sekitar tempatnya berdiri. Dengan menggunakan penjepit khusus seperti pinset besar dan matanya tak henti mengawasi kebersihan lingkungan tempatnya bertugas. Semua itu dilakukannya dengan penuh semangat disela  kesibukannya mengatur antrian pengunjung wahana yang saat itu lumayan padat, tapi sang gadis tetap tersenyum manis. Sungguh pemandangan yang eksostis dimataku. Mengapa tidak, baru pertama kali dalam sejarah hidupku melihat sebuah sikap yang begitu ramah, baik kepada pengunjung maupun kepada lingkungan. Pengalaman ini aku dapatkan di “Disneyland” Hongkong tempat yang cukup jauh dari rumah aku tinggal yaitu Indonesia.

Sepenggal adegan sederhana itu telah menginspirasiku untuk bermimpi menambah wahana baru di Ancol sebagai Taman Impian. “Taman Kelautan Indonesia”, Ancol dengan Sea World-nya sepertinya sangat cocok sebagai tempat pembelajaran ilmu kelautan yang Indonesia miliki. Kita semua tahu bahwa bumi pertiwi ini sangat kaya akan ekosistem laut, namun pengenalan kepada masyarakat masih belum menyentuh level bawah. Level bawah yang aku maksud adalah masyarakat yang secara ekonomi kelas menengah hingga kelas terendah secara pendapatan. Bunaken, Raja Ampat hingga ke Wakatobi itu spot kelautan terindah di dunia yang kita miliki, tapi berapa biaya mengunjunginya? Bagi “mereka”, masih sangat mahal tentunya….Kita memiliki Taman Mini Indonesia Indah, sebuah wahana murah meriah yang hampir semua lapisan masyarakat kita bisa menikmati kebudayaan dan kultur bangsanya sendiri.

Ketertarikan masyarakat akan laut Indonesia tentunya tidak berakhir pada menikmati keindahannya saja, tapi harus dapat memelihara, mengembangkan dan membangun kembali ekosistem yang terlanjur rusak oleh faktor manusia. Pembelajaran inilah yang akan didapat pada “Perguruan Tinggi Ilmu Kelautan Indonesia” (oceAN COLlege). Terus terang, Perguruan Tinggi tersebut adalah mimpiku yang lain sebagai tindak lanjut  dalam rangka mewarisi alam ini kepada generasi yang akan datang. Aku iri melihat pembangunan apartemen di kawasan Ancol begitu megah, dengan bonus menikmati rekreasi Ancol gratis bagi penghuninya atau kawasan rumah mewah dekat Marina yang memiliki garasi speedboat pengganti garasi mobil. Siapakah gerangan mereka, penikmat kehidupan lux di kawasan Ancol kita? Masih adakah ruang di tepi pantai untuk sebuah Perguruan Tinggi Ilmu Kelautan Indonesia yang para siswanya tak memiliki kantong tebal?

Isi kantong boleh cekak tapi isi otak dan sikap harus berbudi luhur, itulah cerminan para siswa lulusan Perguruan Tinggi Ilmu Kelautan Indonesia. Aplikasikan ilmu yang didapat pada lingkungan, dimulai dari Ancol Taman Impian. Tiga ide dasar yang mengilhamiku untuk praktek para siswa tersebut adalah :

1. Bersih untuk Mimpi Indonesia Bersih

Dengan menggunakan filosofi kamar mandi (meminjam istilah Syahrul Maarif), yang berarti “meninggalkan tempat usai digunakan dalam keadaan bersih agar orang lain sesudahnya dapat nyaman menggunakan tempat tersebut”. Ancol Taman Impian hingga kepulauan seribu dijadikan wilayah konservasi (dilindungi) agar terjaga ekosistem dan kebersihannya terutama tempat-tempat yang selalu didatangi pengunjung. Kesempatan magang bagi para siswa bergabung dengan petugas taman rekreasi menjadi ajang merubah kebiasaan buruk menjadi lebih baik dalam hal kebersihan lingkungan. Dengan bermodalkan penjepit besar seperti gadis Hongkong itu, kegiatan memungut sampah menjadi mengasikan disela tugas pokok memberi pelayanan yang prima kepada pengunjung (service Excellent). Setelah bersih secara fisik, diharapkan secara mental bangsa ini juga akan menjadi bersih, baik di masyarakat maupun sebagai wakil rakyat.

2. Ramah untuk Mimpi Indonesia Ramah

Hhhmmm….Masih terbayang jelas, senyum manis gadis cantik Disneyland Hongkong, sungguh terasa nyaman sambutan di pintu masuk wahana itu. Bukankah senyum itu ibadah? Aplikasikan keramahan itu untuk Ancol Taman Impian kita. Mari tampilkan senyum dan keramahan tanpa melihat latar belakang atau kalangan kepada pengunjung rekreasi. Bagi para siswa, kalian masih muda dan energik, berikan senyuman termanis dan keramahan kalian secara maksimal serta sosialisasikan produk yang dipakai sehari-hari juga ramah terhadap lingkungan. Seleksi barang bawaan pengunjung hanya yang dapat didaur ulang atau terurai lebih cepat.

3. Gotong Royong untuk Mimpi Indonesia Bersatu

Jelas sudah ide dasar yang ketiga ini, bersama kita bisa, bersatulah Indonesia menuju perubahan yang lebih baik.

Piknik Rakyat

Apakah bertamasya atau biasa disebut piknik di tepi pantai harus menyewa bungalaow/cottage? Untuk  yang sekedar ingin duduk-duduk saja atau hanya menggelar tikar dan makan bersama keluarga dengan bekal yang dibawa dari rumah sambil menikmati semilir angin laut dan belaian daun nyiur yang melambai, Ancol Taman Impian menjadi lokasi yang cocok tanpa merogoh kantong lebih dalam. Sebutan Bina Ria jaman dahulu untuk Ancol mungkin kita masih ingat. Dua suku kata yaitu Bina yang mungkin diartikan dengan membina kesegaran fisik setelah lelah akan rutinitas pekerjaan dan kemacetan Jakarta. Pengunjung dapat berlari bebas sepanjang pasir pantai, berenang di laut yang bersih atau sekedar bercengkrama dengan pasangan. Lalu kata Ria disini sebagai kependekan dari sukaria atau bergembira, setelah fisik segar maka kegembiraanpun tercipta. Seperti lagunya koesplus “hati senang walaupun tak punya uang”. Dengan wahana kapal laut yang berlayar menuju salah satu pulau di kepulauan seribu, pengunjung dapat menikmati piknik di atas kapal tersebut, menggelar tikar seperti di tepi pantai dan berayun-ayun menikmati ramahnya gelombang Teluk Jakarta. Sebuah Piknik Rakyat yang selalu dinanti setiap akhir pekan.

Oleh: Achmad Nadjamudin Junus

Komentar
Anda suka? share!