Anda suka? share!

Mungkin terdengar sedikit ganjil, apabila gadis belia tidak suka belanja baju di mall. Tapi itulah yang di alami oleh seorang Diah Permatasari saat itu atau biasa disapa dengan Sari ini lebih suka pergi ke pasar Mayestik Jakarta Selatan yang sumpek dan panas.  Disana ia berdiskusi dengan penjahit baju, meminta masukan untuk rancangan baju yang akan dibuat. Merancang atau mendisain sendiri baju-bajunya telah dilakukannya sejak masa es-em-a. Dimulai dari keisengannya menggambar hingga menanyakannya langsung bagaimana membuat pola untuk baju yang ingin dibuat kepada penjahit. Hampir semua baju yang dikenakannya baik itu untuk santai, pergi kuliah sampai gaun pesta, ia disain sendiri berdasarkan ide-ide kreatifnya.

Kuliah jurusan komputer tidak menghalanginya untuk terus berkreasi hingga akhirnya lulus dan bekerja. Masih tetap mendisain sendiri baju-baju kerjanya sampai pada suatu saat tempat dimana ia bekerja mempercayakan untuk membuat baju semacam seragam peserta yang akan dipakai  saat acara pameran dan jumlahnya lumayan banyak. Momen inilah yang membuat seorang Sari untuk mewujudkan kreatifitasnya secara professional. Dengan berbekal koneksi para penjahit mayestik, Sari  mengerjakan proyek seragam tersebut. Selepas jam kantor, ia sempatkan mampir atau di hari sabtu dan minggu ia selalu masuk pasar yang sempit dan sumpek itu agar kepercayaan yang di berikan kantornya dapat diselesaikan tepat waktu.

Hingga pada suatu hari seorang penjahit kenalannya menawarkan untuk memakai salah satu kiosnya. Sebuah langkah besar harus diambil, dengan perhitungan dan suport dari sang suami, akhirnya jadi juga ia menyewa kios dengan beberapa mesin jahit dan karyawan. Proses awal yang menguras energi ditambah kendala waktu yang terbatas, akhirnya semua dapat diatasi.  Kios jahitannya mulai menggeliat mengundang para pelanggan baru untuk bertransaksi. cukup surpraise juga begitu mengetahui ternyata beberapa pelanggannya juga ada yang dari kalangan artis.

Kini mimpi itu mulai menampakan wujudnya, sedikit demi sedikit omset puluhan juta perbulan telah didapat. Rupanya Sari belum merasa puas, sebab mimpi-mimpi baru mulai merasuki jiwanya, ada keinginan untuk memanage lebih profesional lagi, membangun display yang nyaman untuk produk dan berinteraksi dengan klien membutuhkan suport dan konsentrasi lebih dalam lagi. Menyiasati waktu yang harus ia bagi dengan perusahaan BUMN tempatnya sekarang bekerja, kios jahitannya di mayestik dan suami tercinta termasuk 2 buah hatinya. Disain berkualitas dan harga baju yang mampu bersaing menambah kepercayaan dirinya untuk menyusun langkah demi sebuah impian besar. Memulai satu usaha dengan hobby yang kita punya itu banyak senangnya, serasa kita tidak sedang bekerja, apalagi dari hobby bisa menghasilkan. Setelah menghasilkan kita juga dapat berbagi dengan sesama, berbagi peluang usaha hingga berbagi kesempatan  bekerjasama…..Semua berawal dari mimpi, jangan abaikan mimpi itu kawan…begitu pesan Sari kepadaku.

Komentar
Anda suka? share!