Anda suka? share!

Aturannya kurang lebih masih sama dengan tinju konvensional yang sering kita lihat, hanya saja dalam Real Steel olahraga keras ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa oleh sutradara dwilogi Night at Museum, Shawn Levy menjadi pertarungan yang jauh lebih keras, lebih brutal, tanpa ampun bahkan kalau perlu sampai mati, apalagi hebatnya tinju masa depan itu bukan olahraga ilegal karena saat itu ada para robot rakasasa yang tidak punya rasa sakit untuk menggatikan manusia ujuk gigi di atas ring.

Adalah Charlie Kenton (Hugh Jackman), mantan pentinju dengan masa lalu pahit yang kini beralih profesi menjadi ‘promotor’ tinju robot kecil-kecilan yang berkelana dari satu kota ke kota lain hanya untuk sekedar menghancurkan robot-robotnya, membuatnya terbelit lebih banyak hutang, bahkan hubungannya dengan Bailey Tallet (Evangeline Lilly), temannya sejak kecil yang juga pemilik sasana tinju menjadi renggang. Tapi masalah terbesarnya baru muncul ketika pada suatu hari seseorang dari masa lalu yang terlupakan hadir kembali di kehidupannya. Ya, orang itu adalah Max (Dakota Goyo), bocah 10 tahun yang tidak lain tidak bukan adalah putra kandungnya sendiri yang kemudian memaksanya untuk melatih sebuah robot rongsokan bernama Atom untuk dijadikan robot petarung.

Tahun ini setelah sekuel kedua Transformers yang sempat menghebohkan itu ada Real Steal yang kembali menghadirkan pertarungan apik robot-robot besi rakasasa. Walaupun keduanya sama-sama beraliran ‘robot’ dan diproduseri oleh seorang Steven Speielberg, tapi Real Steel jelas berbeda dengan sci-fi milik Michael Bay itu. Bisa dibilang menonton Real Steel 2x lipat jauh lebih menyenangkan dan menghibur ketimbang melihat duel Autobots dan Decepticons yang membosankan itu. Shawn Levy yang selama ini kerap menghadirkan film-film spesialis komedi ternyata begitu piawai menghadirkan rangkaian momen adu jotos super dahsyat antara sesama ‘kaleng besi’ raksasa itu di atas ring tinju super besar yang dipenuhi ciptratan oli dan kerusakan dimana-mana dalam bakutan visual efek dan robot-robot animatorik seberat 500 Kg yang keren. tidak hanya itu, ia juga memberinya ‘hati’ dalam kisahnya yang diadaptasi dari “Steel” sebuah cerita pendek yang berusia setengah abad lebih itu.

Banyak drama sentimentil menarik disini yang kemudian mendapatkan porsi seimbang di sepanjang 110 menit dengan adegan-adegan aksinya. Ada tema perjuangan bangkit dari keterpurukan, pencarian jati diri dan penebusan dosa seorang manusia, from zero to hero layaknya kebayakan film bertema olarhaga, road movie yang diisi oleh hubungan ayah-anak dengan chemistry kuat antara Jackman dan Dakota Goyo yang tampil luar biasa mampu berperan sebagai ‘”sparring patner” seimbang Jackman dalam wujud si bocah kecil Max, juga ada sedikit romansa dengan si cantik Evangeline Lilly, sayang aktris serial televisi populer, ‘Lost’ ini pada akhirnya tidak mendapatkan peran yang terlalu signifikan karena tampaknya Levy ingin memfokuskan segalanya pada trio Jackman-Goyo-Atom. Khusus untuk Atom, Levy tampaknya tahu benar bagaimana menciptakan sosok robot simpatik, jauh dari kesan kuat dan canggih seperti lawannya, Zeus, bahkan Levy mampu memberikan ‘jiwa’ tak terlihat dalam diri robot tua itu dengan cara yang elegan, tanpa harus memaksanya berbicara, cukup hanya dengan sedikit gerakan tarian hip-hop atau sekedar tatapan mata birunya. Ya, Atom hanyalah robot ‘teman berlatih’ generasi kedua yang dibawa Max dari tempat rongsokan, seakan-akan ia menjadi sebuah metafara untuk mewakili bahwa terkadang keberanian itu jauh lebih powerfull dari besi paling kuat sekalipun.

Naskah yang ditulis John Gatins memang klise dan ringan, tapi setidaknya mampu bekerja efektif, khususnya di setengah perjalanannya Real Steel di buka dengan sangat baik, tidak terlalu terburu-buru di saat memperkenalkan karakter-karakternya, termasuk adegan duel pembukaan antara Ambush vs. Banteng yang menarik itu, atau atau disaat Noisy Boy diluluhlantakan olwh Midas. Sayang menjelang akhir kisah Real Steel bergerak terlalu cepat dan terkesan dipaksakan karena keterbatasan durasi, untung saja kelemahan itu mampu ditutup Levy dengan adegan pertarungan final antara Atom vs Zeus yang spektakuler, membuat saya dan mungkin sebagian penontonnya ikut menahan nafas, merasakan emosi dan atamosfer luar biasa disaat dua ‘boneka’ metal keren ini bertukar puluhan jab, hook dan uppercut ala petinju profesional di setiap ronde-ronde mendebarkannya, yang disertai dengan iringan musik latar Danny Elfman yang mampu menghadirkan mood booster luar biasa. Dan tentu saja seperti kebanyakan film-film bertema olahraga lainnya, Real Steel akan diakhiri oleh bunyi bel tanda berakhirnya pertandingan dengan dua kemungkinan besar, antara kemenangan super dramatis atau sebuah kekalahan terhormat, yang mana itu? Tunggu saja sampai anda melihatnya sendiri nanti.

Pada akhirnya saya akan menyebut ” Real Steel is Rocky with robots”. Ia tidak melulu bercerita soal robot yang saling menghacurkan dengan disertai sugguhan spesial efek canggih beserta adegan-adegan aksinya yang dahysat dan menghibur, namun Shawn Levy sudah memberinya ‘jiwa’ dalam balutan kisah hubungan ayah-anaknya yang menyentuh. Walaupun sedikit ‘babak belur’ di penghujung ceritanya, Real Steel tetap adalah sebuah tontonan yang menarik, sulit rasanya untuk melewatkan film yang kisahnya bahkan mampu ‘meng-TKO’ kan Optimus Prime sekalipun sejak ‘ronde’ pertama dimulai.

Komentar
Anda suka? share!