Anda suka? share!

Perayaan Seren Taun sudah turun-temurun dilakukan sejak zaman Kerajaan Pajajaran. Upacara ini berawal dari pemuliaan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Asri, dewi padi yang memberikan kesuburan tanaman dan ternak.  Pasangannya adalah Kuwera, dewa kemakmuran. Keduanya diwujudkan dalam Pare Abah (Padi Ayah) dan Pare Ambu (Padi Ibu), melambangkan persatuan laki-laki dan perempuan sebagai simbol kesuburan dan kebahagiaan keluarga. Upacara adat ini sempat terhenti ketika Pajajaran runtuh.  Setelah 36 tahun, Seren Taun dihidupkan kembali sejak tahun 2006 di Desa Adat Sindang Barang, Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor. Upacara ini disebut upacara Seren Taun Guru Bumi sebagai upaya membangkitkan jati diri budaya masyarakat Sunda.

Seren Taun sebagai warisan leluhur, mengandung arti serah terima tahun yang lalu kepada tahun yang baru, sebagai wahana syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian yang diperoleh pada tahun ini dan berharap lebih baik lagi pada tahun berikutnya.  Ditahun 2012 ini Seren Taun dilaksanakan pada tanggal 9-15 Januari dengan rangkaian acara sebagai berikut :

Hari ke 1, Neutepkeun
adalah memanjatkan niat agar acara Seren Taun berjalan lancar serta memohon agar kebutuhan pangan selama acara terpenuhi tanpa ada kekurangan.
Hari ke 2, Ngembang
adalah ziarah dipimpin oleh Sesepuh Desa ke makam leluhur warga Sindangbarang yaitu Sang Prabu Langlangbuana, Prabu Prenggong Jayadikusumah di Gunung Salak.

Hari ke 3, Sawer Sudat dan Ngalage
adalah upacara sunat bagi anak-anak di kampung Sindang Barang dengan berpakaian adat lengkap serta duduk di atas tandu yang dilaksanakan di alun-alun.

Hari ke 4, Sebret Kasep
adalah pelaksanaan sunat di Bale Pangriungan.

Hari ke 5, Ngukuluan
adalah mengambil air dari tujuh sumber mata air dengan diiringi kesenian tradisional Angklung Gubrag.

Hari ke 6, Sedekah kue, Helaran, Nugel Munding, Sedekah daging, Pertunjukan seni
adalah pembacaan doa di alun-alun oleh sesepuh desa yang diawali dengan meriwayatkan sejarah leluhur Sindangbarang.

Hari ke 7, Helaran dongdang, Majiekeun Pare, Pintonan kesenian
adalah pawai hasil bumi yang dihias sedemikian rupa untuk perebutkan warga desa dan hasil panen padi yang akan dimasukan ke dalam lumbung.

Upacara adat masyarakat Sunda ini dilaksanakan sebagai bentuk syukur masyarakat agraris kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, terlebih di kala menghadapi panen, agar panen berjalan lancar dan terhindar dari cuaca yang buruk, yang bisa mengakibatkan kegagalan panen, serta di lancarkan pula untuk musim tanam mendatang. Acara ini diramaikan ribuan masyarakat Bogor dan sekitarnya, bahkan dari beberapa daerah di Jabar dan wisatawan mancanegara. (akusetiawan)

Komentar
Anda suka? share!