Anda suka? share!

Menuju Teluk Kiluan yang berada di Kecamatan Kelumbayan, Kab Tanggamus, Lampung Selatan tidaklah mudah namun bagi yang berjiwa petualang perjalanan panjang dan cukup sulit merupakan tantangan tersendiri. Bagaimana tidak 5 jam perjalanan darat menggunakan minibus Elf yang kami charter dari pelabuhan Bakaheuni Lampung ke Kecamatan Kelumbayan diwarnai dengan kondisi jalan yang rusak, kecil dan berliku. Memasuki wilayah pedesaan kami disuguhkan pemandangan rumah-rumah panggung khas adat Lampung dan area persawahan yang subur berhias rimbunnya pohon nyiur menjadikan perjalanan ini tidaklah membosankan. Apalagi saat memasuki Desa Kiluan, ada sebuah kampung yang disebut Kampung Bali dimana hampir semua penduduknya adalah masyarakat yang berasal dari Pulau Bali, ini terlihat dari rumah mereka yang memiliki Pura kecil di halamannya.  Masyarakat Bali itu masuk ke Desa Kiluan pada era delapan puluhan saat gencar-gencarnya program transmigrasi yang dilaksanakan oleh pemerintah pada waktu itu.

Selama perjalanan kami berhenti di beberapa tempat untuk menikmati pemandangan yang sayang untuk dilewatkan seperti di Taman Hutan Raya Wan Abdulrahman. Sebuah hutan lindung yang memiliki sungai kecil yang berliku dan perkebunan coklat milik rakyat. Apabila kita menelusuri sungi kecil tersebut dengan track sedikit mendaki, maka sungai kecil itupun berujung pada sebuah air terjun cantik yang berhawa sejuk. Di Desa Kiluan, kami menyempatkan diri untuk menikmati Pantai Pasir Putih yang elok. Sebuah surga tersembunyi yang harus ditempuh dengan berjalan kaki naik turun bukit namun tetap terbayar dengan sebuah lukisan alam Sang Kuasa.

Dari Desa Kiluan, kami menyebrangi teluk Kiluan memakai jukung (perahu kecil berkapasitas 4 orang) menuju Pulau Kiluan yang berseberangan dengan Pulau Kelapa. Menikmati mentari tenggelam sambil melepas dahaga dengan sebutir kelapa muda disela-sela kegiatan snorkling sambil melampiaskan hoby fotografi..hhmmm… Bermalam disebuah pondokan yang memadai di pulau kecil yang indah lalu kami bersendau-gurau dengan permainan yang cukup unik sambil menanti saatnya makan malam. Keesokan harinya usai sarapan kembali kami menaiki jukung menuju laut lepas untuk berjumpa dengan lumba-lumba sang mamalia laut di habitat aslinya. Seolah menyambut kedatangan kami, si lumba-lumba berenang menghampiri jukung dan berlompatan kesana kemari, sungguh ini suatu pemandangan yang fantastis. Jenis lumba-lumba yang ada disini adalah lumba-lumba hidung  botol dan dapat kita saksikan sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Teluk yang berbatasan dengan Samudera Hindia dan memiliki kedalaman serta suhu yang cocok bagi jenis mamalia laut ini memang rumah sekaligus surga bagi lumba-lumba.

Musim ombak besar saat ini menghalangi perjalanan kami menuju Pulau Kelapa, dimana sebuah kolam seluas 10 meter persegi dengan kedalaman kurang lebih enam meter bernama Laguna Dodo yang terletak di pulau tersebut hanya dapat ditempuh dengan menyusuri karang tepi pantai dan ini berbahaya jika hempasan ombak besar menerpa.  Laguna yang memiliki keindahan panorama bawah lautnya menggelitik rasa penasaran kami untuk kembali di perjalanan berikutnya…semoga alam lebih bersahabat (akusetiawan)

Komentar
Anda suka? share!