Anda suka? share!

Setiap bulan Oktober, Indonesia turut memeriahkan perayaan Bulan Peduli Kanker Payudara Sedunia (Breast Cancer Awarness). Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta bersama masyarakat melakukan kampanye di Bundaran Hotel Indonesia, Sabtu (15/10). Mereka mengajak masyarakat untuk peduli dan sadar perlunya pencegahan penyakit kanker payudara sejak dini.

Sebab, berdasarkan data  World Health Organization (WHO), jumlah penderita kanker payudara mengalami kenaikan yang signifikan dari 641.000 menjadi 1,6 juta lebih pada tahun 2011. Penyakit ini sebenarnya tidak mematikan bila terdeteksi secara dini dan diobati. Bahkan di negara-negara maju jumlah penderita kanker payudara stadium lanjut mengalami penurunan. Namun rendahnya kepedulian dan pengetahuan masyarakat mengenai kanker payudara adalah salah satu faktor kanker payudara menjadi penyakit kanker yang paling mematikan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Menurut Pendiri Yayasan Kesehatan Payudara Jakara (YKPJ) Linda Agum Gumelar, Jika kanker payudara diketahui klebih dini, maka peluang untuk sembuh besar. Karena itu pula saran Linda para perempouan tidak perlu takut untuk memeriksakan payudara ke klinik atau fasilitas kesehatan untuk pencegahan dini.

Memang, selama ini belum ada data yang pasti untuk jumlah penderita kanker payudara di Indonesia. Data yang ada masih berupa data penderita yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Padahal bisa saja jumlah penderita kanker payudara masih banyak yang belum masuk di rumah sakit.

Jika berbicara soal kanker payudara, hingga saat ini penyebab pasti tidak diketahui. Akan tetapi beberapa riset mengidentifikasi ada sejumlah factor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker payudara, antara lain riwayat keluarga yang memiliki penyakit serupa, usia yang makin bertambah, tidak memiliki anak, kehamilan pertama pada usia di atas 30 tahun, periode menstruasi yang lebih lama atau menstruasi pertama lebih awal atau menopause lebih lambat, faktor hormonal baik estrogen maupun androgen.

Banyak kalangan dokter menyarankan bagi para perempuan untuk melakukan pemeriksaan payudaranya sedini mungkin dengan cara SADARI (periksa payudara sendiri) di rumah secara rutin dan menyarankan dilakukannya pemeriksaan rutin tahunan untuk mendeteksi benjolan pada payudara.

Selain tes fisik, mamografi tahunan atau dua kali setahun dan USG khusus payudara disarankan untuk mendeteksi adanya kelainan pada wanita berusia lanjut dan wanita berisiko tinggi kanker payudara, sebelum terjadi kanker. Jika benjolan bisa teraba atau kelainan terdeteksi saat mamografi, biopsi perlu dilakukan untuk mendapatkan contoh jaringan guna dilakukan tes di bawah mikroskop dan meneliti kemungkinan adanya tumor. Jika terdiagnosis kanker, maka perlu dilakukan serangkaian tes. Selanjutnya, penatalaksanaan kanker payudara dilakukan dengan serangkaian pengobatan meliputi pembedahan, kemoterapi, terapi hormon, dan terapi radiasi. (Wied)

Komentar
Anda suka? share!