Anda suka? share!

inijakarta.com – International Diabetes Federation (IDF) menyebutkan terdapat 382 juta orang hidup dengan DM di dunia dan mengestimasikan jumlahnya mencapai 592 juta pada tahun 2035. Sedangkan di Indonesia terdapat 9.1 juta penduduk yang menderita DM dan menempati urutan ke 5 negara dengan jumlah yang hidup dengan DM terbesar di dunia, dan hanya 30% diantaranya yang mengetahui kondisinya. Bagaimana Islam melihat hal ini dan apa peran warga Nahldatul Ulama dalam pencegahan dan deteksi dini DM?

diabetes mellitus

Diabetes Melitus (DM) atau biasa disebut “kencing manis” merupakan penyakit metabolik yang berlangsung menahun, akibat pankreas tidak mampu memroduksi insulin yang cukup atau penggunaan insulin oleh tubuh tidak efektif. Insulin adalah hormon yang mengatur keseimbangan kadar gula darah sehingga terjadi peningkatan konsentrasi kadar gula darah dalam tubuh.

Laporan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan (RISKESDAS) tahun 2013 menyebutkan terjadi peningkatan prevalensi pada penderita diabetes melitus yang diperoleh berdasarkan wawancara yaitu 1,1% pada tahun 2007 menjadi 1,5% pada tahun 2013 sedangkan prevalensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter atau gejala pada tahun 2013 sebesar 2,1%.

“Hingga saat ini ada kesenjangan, karena hanya 30% dari anggota masyarakat yang hidup dengan DM mengetahui kondisinya. Oleh karena itu sangat dibutuhkan keterlibatan masyarakat untuk membantu deteksi dini sehingga seseorang akan lebih cepat mengetahui kondisinya dan dapat melakukan tindakan preventif terhadap DM,” papar Kepala Subdit DM, Drg. Dyah Erti Mustikawati, MPH saat berbicara di diskusi publik tentang diabetes melitus, yang diselenggarakan Pengurus Pusat Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (PPLKNU), Rabu, (30/9) lalu.

Pada tahun 2014, Hari Diabetes Dunia berfokus pada tema “healthy living and diabetes” dengan slogan “Diabetes: protect our future” dan pesan kunci “Make healthy food the easy choice, Healthy eating: make the right choice, healthy eating begins with breakfast,” yang berlaku selama 3 tahun.

Untuk mengendalikan DM di Indonesia, diperlukan program komprehensif, meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif guna meningkatkan kualitas hidup seseorang. Deteksi dini terhadap DM adalah langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan upaya untuk mengendalikan agar DM yang diderita seseorang tidak berkembang semakin berat dan akhirnya dapat menimbulkan dampak yang semakin berat terhadap kondisi kesehatan.

Menyikapi hal itu, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) mengharapkan penyakit DM tidak hanya diketahui oleh tenaga kesehatan, namun juga para tokoh agama dan masyarakat. Sehingga akan dapat memperjelas peran masyarakat terutama warga NU untuk berperan aktif dalam upaya pengendalian kenaikan angka DM.

“Kenyataan masih besarnya jumlah dari mereka yang tidak sadar dirinya menderita DM, menunjukkan pentingnya peran tokoh agama dan organisasi kemasyarakatan dalam menyebarluaskan informasi pentingnya deteksi dini DM,” pungkas Ketua PP LKNU, Drs. H. Hisyam Said Budairi, M.Sc. (PW)

Komentar
Anda suka? share!