Anda suka? share!

Sebagai pelaku usaha, pria eksentrik ini bisa terbilang sukses dalam karir. Usaha yang Ia geluti saat ini merupakan titik balik dari kesalahan masa lalunya yang kental dengan warna kapitalisme. Kini bersama beberapa temannya ia mendirikan Greenlinecare dengan visi yang dijiwai semangat Green Social Entrepreneurship.

Bersahabat dan bersahaja, ya..kesan inilah yang tampak pertama kali bertemu dengan Adiyoso Bambang. Jiwa muda masih nampak dalam diri pria yang hampir memasuki usia separuh abad ini.  Mengenakkan kemeja hijau berpola kotak-kotak, sedang asik berkutat dengan perangkat lunaknya. Lewat obrolan santai dengan inijakarta.com, Yoyok (panggilan akrab) berbagi cerita sedikit kisah kerja kerasnya sehingga bisa menjadi salah satu Entrepreneur sukses di Jakarta.

Sedari dulu, Yoyok memiliki hoby mencari ‘uang’. Bermacam usaha ia jalani agar bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Bahkan dirinya sempat mendapat julukkan raja kaos dari teman-temannya kala dibangku SMA. “Sekolah saya dulu berseragam bebas, dan mayoritas siswanya tergolong kategori mampu, saya melihat ini sebagai sasaran empuk sehingga memberanikan diri berjualan kaos. Alhasil dari  berjualan kaos ini saya bisa membeli sepeda motor”. Kenang Yoyok.

Beranjak dewasa, sebelum memulai karirnya sebagai Entrepreneur, Yoyok yang juga besar dilingkungan media sempat mempunyai cita-cita ingin menjadi jurnalis. Kegemarannya akan menulis menjadikan dirinya salah satu pelopor lahirnya organisasi publisistik (kala itu) dimasa sekolah. Namun karena pola jam kerja seorang wartawan yang tak menentu, ia harus mengurungkan keinginannya tersebut karena tak sejalan dengan keinginan sang ibu yang menginginkan Yoyok menjadi seorang Arsitek.

Yoyok pun mengabulkan keinginan sang Ibu, gelar sarjana Teknik Sipil ia raih setelah berjuang meniti ilmu di Universitas Parahyangan Bandung. Mulailah Ia menyelami dunia Arsitektur sebagai specialis pembuat lapangan golf. Namun tak berjalan mulus karena ditinggal oleh investor dari Jepang. Beberapa kali bekerja dalam dunia arsitek ternyata ia menyadari ini bertolak belakang dengan  jiwanya. Akhirnya ia memutuskan untuk meneruskan sekolah jenjang S2 dengan biaya sendiri.

Pria jebolan Institut Pengembangan Manajemen Indonesia (IPMI) dan MBA Monash University Australia, Adiyoso memulai karirnya sebagai profesional di Bank Universal. Di Bank tersebut ia meniti karir hingga menjabat sebagai kepala cabang. Jauh sebelum krisis 1998 pada waktu itu dunia perbankan sedang mengalami pertumbuhan, namun Adiyoso memutuskan untuk mengakhiri karirnya dan memilih menjadi pengusaha.

Bersama temannya Adiyoso mengembangkan PT. Alasindo hingga menggurita ke beberapa sektor dari eksportir, logistik, dan transportasi (forwarding), keuangan, energi, kimia dan telekomunikasi. Sampai ini Adiyoso masih duduk sebagai komisaris PT. Inti Alasindo Holding Company.

Second Change

Kurun waktu silam, bangsa ini mengalami krisis yang berpengaruh besar dampaknya bagi segi perekonomian di tahun 1998. Harga dollar melambung tinggi sementara nilai mata uang rupiah kian melemah. Justru Adiyoso, melihat memontum ini sebagai peluang usaha. Akhirnya ia mampu membeli banyak perusahaan dan aset-aset yang notabenya ‘Sakit’ dipoles untuk dijual kembali. “Pada waktu itu yang ada dalam pikiran saya hanya berbisnis, sama seperti pelaku usaha pada umumnya. Pundi-pundi rupiah pun datang dengan derasnya.” Jelasnya.

Namun ia menyadari bahwa hal tersebut membuatnya menjadi seorang Adiyoso dalam ‘tanda kutip’ dan tidak benar. “karena kita sama sekali tidak mempunyai rasa humanisme dalam artian kita mau berteman dengan seseorang yang bisa menguntungkan.” Tegasnya. Ia menyadari hal ini tidak sehat dan segera mungkin pola pikir kapitalisme ditinggalkan.

Merasa jenuh dengan bisnis yang berbau kapitalis yang penuh dengan intri dalam persaingan bisnis besar, ditahun 2007 tepatnya Adiyoso bersama beberapa teman seperjuangan dan memiliki visi yang sama mendirikan Greenlinecare.

Melalui bendera yang ia gaungi ini, Adiyoso berusaha memperbaiki kesalahan dimasa lalunya. “Alasan memasuki dunia green karena basicly berangkat sebagai pelaku usaha. Kurang lengkap rasanya jika seorang Entrepreneur tak peduli terhadap lingkungan. Minimal orang lain bisa menjadi lebih benar dari apa yang kita tularkan kepada mereka yang berhubungan dengan lingkungan.” Jelas Adiyoso.

Lebih lanjut ia menambahkan, “Definisi green disini harus d luruskan dulu karena orang pada umumnya lebih mengenal green yang berhubungan dengan ramah lingkungan. Tapi makna green yang lebih mendalam adalah suatu tindakan atau pemikiran, pelaku usaha yang mempunyai tanggung jawab untuk generasi yang akan datang. Sehingga bisa berjalan terus. Green itu sendiri merupakan lawannya dari orang yang serakah. Green kata kuncinya adalah next generation.”

Meskipun memakai kata sosial Greenlinecare tetap sebagai suatu perusahaan dengan tujuan mencari profit, tetapi dengan misi untuk meningkatkan produk-produk yang ramah lingkungan dengan teknologi yang tepat guna. Sembari membentuk komunitas produktif sebagai solusi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia yang merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia.

Tanpa kita sadari, dengan memulai segala sesuatu yang ramah lingkungan secara tak langsung kita menjadi pahlawan untuk generasi berikut. ES

Komentar
Anda suka? share!