Anda suka? share!

 

Menjadi pengusaha merupakan cita-citanya yang tertanam sejak kecil. Berkat kejelian melihat peluang usaha, putri daerah ini mampu mewujudkan impiannya lewat kreatifitas yang ia salurkan pada media sepatu.

Belum genap sewindu meninggalkan kampung halamannya Sintang, Kalimantan Barat, namun dalam waktu singkat Denia A. Samad sudah bisa ‘mencicipi’ nikmatnya rejeki di Jakarta. Tentunya ini semua ia lewati usaha dan kerja keras, tak semudah membalikkan telapak tangan.

Bermodalkan keyakinan serta niat yang kuat, Denia mulai menapakkan kaki di Jakarta 5 tahun silam. Awal karirnya ia berprofesi sebagai karyawan swasta. Satu tahun kemudian, dimana ajang Miss Indonesia 2006 terselenggara, Denia ikut serta menjajali keberuntungan lewat event tahunan ini mewakili kampung halamannya Kalimantan Barat.

Disinilah Denia menemukan celah untuk membangun usaha lewat media sepatu. “Pada masa karantina Miss Indonesia, saya kesulitan mencari sepatu yang sesuai dengan uang saku, rata-rata sepatu high heel harganya mahal diatas Rp. 1Jt. Status karyawan dengan pendapatan yang terbatas serta enggak ada sponsor dari pemerintah daerah dalam bentuk materi, otomatis sepatu tak terbeli.” kenang wanita berparas ayu ini.

Rasa kesal bercampur geregetan menjadi satu, ketika sepatu yang diinginkan tak dapat dimiliki. Namun dibalik itu semua, justru timbul ide untuk membuat sendiri sepatu ‘ala’ Denia. Dengan menggambar sendiri pola sepatu sesuai keinginan, Denia lalu menyerahkan pola tersebut kepada pembuat sepatu (tukang). “Akhirnya saya mendisain sendiri sepatu yang saya inginkan. Waktu itu hanya bermodalkan Rp. 150.000,-.  Dan ternyata sepatu yang saya buat sendiri itu, sangat menunjang aktifitas selama 10 hari masa karantina.” Kenang Denia sambil tertawa.

Tak disangka banyak teman sesama finalis menyukai disain sepatu yang Denia kenakan. Ia pun melihat ini sebagai peluang bisnis dari bakat yang ia miliki. Meski Setelah masa karantina berakhir dan sempat masuk dalam jajaran 15 besar dalam ajang Miss Indonesia 2006, wanita bertubuh sintal ini membuat beberapa sepatu untuk dipasarkan. Alhasil, respon dari pasar pun menjanjikan. Sepatu Denia laris manis terjual.

Mulailah ia menekni dunia bisnis sepatu. “Pada waktu itu saya belum memiliki karyawan, saya buat dulu dengan orang lain kemudian saya pasarkan sama kepada teman dan mengikuti bazar. Dan Alhamdulillah pada waktu bazar respon public ramai pesanan.” Jelas sembari menunjukkan salah satu produk sepatunya.

Sedikit demi sedikit sepatu buatan Denia kian disukai pelanggan, dengan Brand Denia Ponti (kependekan dari Pontianak). Usaha yang telah berjalan 4 tahun ini, berawal dari Usaha Kecil Menengah (UKM) pada sebuah rumah petak kecil. Karena tuntutan profesionalisme ditahun 2009 awal berkembang menjadi PT. Sekar Panutan.

Kunci Sukses

Sebagai wanita Denia sangat memahami benar apa yang sedang up to date atau yang sedang tren dibidang fahion. Sangat mengerti apa yang sedang disukai pasar. Inilah yang membuat Denia yakin akan peluangnya menjadi seorang pengusaha sepatu. “Melihat pasar yang ada saya tahu bagaimana memproduksi sepatu dengan hpp (harga produksi penjualan) yang minim mungkin, tapi bisa menjual dengan harga yang terjangkau namun tetap menguntungkan serta berkualitas. Ini yang kemudian saya terapkan pada Denia Ponti,” ungkap Direktur PT. Sekar Panutan kepada inijakarta.com. “Dari situ saya akhirnya bisa membuka sebuah toko untuk penjualan sepatu pertama kalinya di ITC Kuningan sampai sekarang sudah mempunyai 4 outlet.”  tambahnya.

Lebih lanjut Denia menjelaskan, sistem pemasaran yang sekarang jauh lebih bervariatif. Kalau dulu hanya mengandalkan toko dan mengikuti bazar, kini Denia Ponti lebih mengandalkan sistem penjualan direct sale. “Orang mendaftar menjadi member, yang kita sebut Denia Ponti partner atau resaler, kemudian mempunyai hak untuk menjual brand kami, dan pihak kami akan mengirimkan kataloq tiap tiga bulan sekali. Ini sudah tersebar di seluruh Indonesia.” tandas wanita bertumbuh sintal ini. Memasarkan lewat online store atau internet pun tak luput dari sistem penjualan Denia Ponti.

Tak takut bersaing

Dengan mengedepankan fashion driver bukan follower, Denia ingin menjadikan produk sepatunya ini sebagai brand sepatu lokal yang berkualitas dan bisa menjadi andalan produk dalam negeri. Ada tiga strategi jitu Denia yang membeda brand sepatunya ini dengan pesaing dipasaran. Kenyamanan (Comfortable) yang selalu menjadi pertimbangan pertama dalam memproduksi sepatu. Permainan warna yang ekstrim (Colourfull) dan unik, biasanya dalam satu tema Denia bisa bermain sampai dengan lima warna. Ini menjadikan pelanggan dapat memilih warna yang disukai. Selain itu harganya pun sangat terjangkau. Cukup dengan merogoh uang 150rb – 350rb rupiah, pelanggan sudah bisa membawa pulang sepatu lokal berkualitas.

“Cita-cita saya nantinya ingin Denia Ponti bisa menjadi produk untuk oleh-oleh setiap orang yang pulang dari Jakarta atau manapun.” Tandasnya dengan sipu malu.

 

Tentang Jakarta

Jakarta bagi Denia adalah tempat untuk berkompetisi hidup. ‘Mencicipi’ kesukseskan di Jakarta merupakan harga matinya. “Saya merantau meninggalkan kampung halaman dan orang tua disana. Kalau tidak mendapatkan sesuatu atau saya tidak mampu mencapai apa yang saya inginkan, lebih baik saya pulang kampung saja. Karena sudah banyak yang saya korban. Ketika saya tertidur dimalam hari, saya sudah berfikir apa yang harus saya lakukan agar saya tidak ketinggalan dengan orang lain.” tutur Denia.

Terkadang Jakarta membuat Denia berada sampai dititik jenuh dan jengah dengan rutinitas yang begitu padat, kemudian waktu yang berlalu begitu cepat, tingkat stres yang cukup tinggi, banyak pula individu yang hedonis. “Secara pribadi yang pasti saya tidak ingin menyiakan kesempatan dan kemudahan rezeki yang allah berikan. Saya akan menjadi tangguh dan pantang menyerah, dimanapun saya berada saya berharap bisa memberikan manfaat bagi lingkungan sosial saya.” tutur Denia dengan bijak. Its a complete life in Jakarta. (ES)

 

Komentar
Anda suka? share!