Anda suka? share!

 

Untuk berbagi suka cita dengan para sahabat Indonesia dalam rangka HUT ke-100 tahun berdirinya Republic of China (ROC), serta demi membuat masyarakat Indonesia lebih memahami bagaimana ROC mewujudkan cita-cita Bapak negara Sun Yat-sen, dan seabad perjalanan pembangunan negara,  kantor penerangan Taiwan dan Taipei Economic and Trade Office (TETO) bekerja sama dengan Galeri Foto Jurnalistik ANTARA menyelenggarakan pameran foto yang berjudul “Menghitung Jejak yang Dilalui — Pameran Foto Satu Abad ROC”. Pameran ini dibuka sampai tgl 10 oktober bertepatan dengan hari nasional ROC.

Acara pembukaan yang diadakan pada tanggal 23 September 2011 Jumat lalu dibuka oleh Kepala TETO Andrew L.Y Hsia dan Presiden Direktur/CEO kantor berita ANTARA Ahmad Mukhlis.

Dalam pidatonya Hsia menyatakan, Bapak Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 saat berpidato tentang “Pancasila”selalu menyebut tiga prinsip rakyat (San Min Chu I) yang dikumandangkan oleh  Sun yat-sen yang kemudian menginspirasi gagasan  “Pancasila”. Ini menunjukkan bahwa konsep pemikiran kedua Bapak negara tersebut mempunyai hubungan yang erat. Menjelang hari jadi 100 tahun ROC, acara “menghitung jejak yang dilalui — Pameran foto satu abad R.OC” yang dipamerkan di Galeri ANTARA ini diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat Indonesia untuk mengetahui bagaimana ROC menerapkan ideologi Bapak Sun Yat-sen serta perjalanan perkembangan ROC selama 100 tahun demi menciptakan hubungan yang lebih baik antara kedua negara di masa yang akan datang.

Ahmad Mukhis menyatakan, pameran foto sejarah yang berharga ini dapat meningkatkan rasa saling mengerti antar kedua negara. Dengan adanya rasa kepedulian kedua negara ini, akan lebih mempererat hubungan persahabatan kedua negara.

Pameran juga  diselingi oleh penampilan musik dari tiga pemusik wanita, yakni pemain oboe dari Taiwan Akris Hung dan pemain piano Miao-wei Chen, serta soprano dari Indonesia Ubiet. Ketiga musikus akan menampilkan gabungan lagu-lagu klasik dan tradisional Taiwan-Indonesia untuk memeriahkan acara pameran foto 100 tahun ROC.

Ilustrasi foto demi foto melebihi ucapan dari ribuan kata. Menteri Penerangan Taiwan Yang Yong-min menyatakan, melalui pameran foto ini, diharapkan kita bisa mengenang masa lalu, menghargai masa sekarang, dan mengantisipasi masa depan.

Mengilas balik sejarah, terjadinya beberapa kali perjuangan di tahun 1911, merupakan tonggak sejarah penting bagi China, dimana dari tatanan sosial feodal kerajaan,  menjadi sebuah republik pertama di Asia, yaitu ROC.

Menurut penanggalan bulan China, 1911 adalah tahun Xinhai, maka hari kemenangan revolusi tanggal 10 Oktober disebut juga sebagai Revolusi Xinhai, dan ROC setiap tahun memperingati hari nasionalnya sebagai Double Tenth Day.

Pada tanggal 1 Januari 1912, Sun Yat-sen diangkat sebagai presiden sementara, beliau kemudian mengumumkan “ Undang-undang sementara ROC”, sebagai UUD negara ROC pada tanggal 11 Maret. Beliau mengumumkan bahwa kedaulatan ROC ada di tangan rakyat, persamaan derajat bagi seluruh rakyat, serta rakyat memiliki hak dan kebebasan untuk berkumpul, berpendapat, berorganisasi dan beragama. Dari sistim feodal kerajaan menjadi republik demokrasi, rakyat yang semula hanya diperintah kini menjadi tuan rumah di negeri sendiri; ini adalah perubahan yang sangat besar.

Ketua Panitia Galeri Foto Jurnalistik ANTARA Oscar Motuloh dalam kesempatannya menyatakan, kebebasan dan demokrasi bukanlah takdir yang jatuh dari langit,  itu harus diraih dengan berbagai pengorbanan. Seperti halnya ROC di Taiwan, Indonesia juga pernah mengalami masa perjuangan yang berat  dan pengorbanan untuk meraih kemerdekaan.

Gedung Galeri Foto Jurnalistik ANTARA berlokasi di Pasar Baru. Dulunya gedung tersebut merupakan  kantor berita ANTARA, yang pada tahun 1945 dikantor berita ini, berita kemerdekaan Indonesia dikumandangkan ke seluruh tanah air. Alamat Galeri Foto Jurnalistik ANTARA : Jalan Antara No.59 Pasar Baru, Jakarta Pusat 10710. Telp : 021-3458771, website : www.gfja.org

Komentar
Anda suka? share!