Anda suka? share!

Martabak! Siapa yang tak kenal jenis makanan yang satu ini, banyak digemari dan memiliki banyak jenis dan variasi.

Martabak AA yang terletak di Jl. Minang Kabau Manggarai ini berusaha membuat martabak yang berbeda dari yang lainnya. Ternyata pemilik yang tadinya awam masalah martabak ini sukses besar.  Surya Jaya Tusin, adalah pemilik dari martabak “AA”,  usaha yang dirintisnya dari bawah ini sekarang setiap hari memiliki omzet mencapai Rp3 juta/hari.
Namun demikian untuk meraih omzet sebesar itu, diakui tidak mudah dan penuh lika-liku. Sebelum mempunyai “pangkalan” yang dirasakan membawa berkah yakni di Jalan Minangkabau, Surya mengaku membuka usahanya di Jalan Dr Sahardjo, Tebet. Tepatnya di depan Markas Komando (Mako) Akabri.

“Ketika itu tahun 1981, saya bersama seorang teman patungan untuk berdagang martabak manis dan telor. Karena saya sendiri awam dengan namanya martabak. Sedangkan teman yang bernama Sulaiman itu ahlinya membuat atau memasak martabak manis. Sejak saat itulah saya terus-menerus belajar memasak martabak manis dan juga martabak telor dari Sulaiman,” ungkap Surya, di rumahnya di Jalan Teratai II, Perumahan Duta Indah, Pondok Gede, Bekasi.
Belum genap seminggu, lanjut Surya, Sulaiman mendapat interlokal bahwa anaknya di Denpasar, Bali, sakit.

Sejak saat itulah, Surya harus berjualan martabak sendiri.
Padahal, ia mengaku belum bisa memasak martabak manis ataupun martabak telor. Akibat teman usahanya menetap di Bali, Surya jadi terbiasa melayani pembeli.
“Walaupun Sulaiman tidak pernah datang, dia tetap teman usaha dan bagian keuntungannya pun tetap dikirim setiap bulannya. Karena saya bisa seperti sekarang, lantaran dia juga. Nah, sangat tidak baik, bila kita berhasil lalu menendang teman yang telah memberikan jalan untuk hidup,” jelas Surya, putra Bangka, kelahiran di Lorong Gedong, Lapang Hatta, Palembang pada 17 November 1957 ini.
***
USAHA yang dijalani itu berawal setelah Surya menyelesaikan pendidikannya di SMA swasta di Muntok, Bangka pada tahun 1978. Ia merantau ke Jakarta. Setahun kemudian ia kembali ke Palembang, bekerja di Toko Obat “Faratu” di Pasar 16, milik pamannya.
Bekerja di toko milik pamannya, Surya merasa tidak puas. Lagi pula pamannya, tidak memberikan masa depan yang lebih baik. Surya kemudian mengambil langkah untuk keluar dari tempatnya bekerja, dan memilih untuk merantau kembali ke Jakarta.
“Saya minta izin untuk berekreasi ke Bali. Paman mengizinkan, asalkan cepat pulang. Tapi, rekreasi ke Bali itu hanya alasan. Karena saya langsung pergi ke Bandung. Dan di Bandung, saya bertemu Sulaiman yang ahli memasak martabak manis. Sulaiman itu aslinya juga Bangka. Bersama Sulaiman, itulah akhirnya kita berdagang martabak berlabel ‘AA’,” ucap Surya yang beristrikan Dewi Meganingrum, wanita asli Jakarta.
Nama “AA” menurut Surya diambil dari namanya dan nama rekannya, Sulaiman, yakni A Siang (Surya) dan A Kiu (Sulaiman).
Dengan modal awal Rp1,9 juta pada tahun 1981. Kini Martabak “AA”, mampu meraih omzet Rp3juta/hari. Sementara kontrak tempat di Jalan Minangkabau, pertahun mencapai Rp17,5 juta.
“Pada awalnya kontrak setahunnya hanya Rp2,5 juta. Tapi sekarang Rp17,5 juta pertahunnya. Jadi, semuanya memang harus dibayar. Belum lagi untuk keamanan dan kebersihan lingkungan di Jalan Minangkabau, kita juga mengeluarkan dana lebih dari Rp250.000 tiap bulannya. Pokoknya, semuanya itu sudah merupakan rezeki dari Allah SWT. Jadi kita musti ikhlas. Termasuk kewajiban kita sebagai muslim, yakni 2,5 persen untuk fakir-miskin,” kata Surya yang setiap hari harus menyiapkan tiga peti telor ayam, 50 Kg gula pasir, dan lima kaleng mentega dan bahan-bahan makanan lainnya untuk dagangannya.
***
SURYA dengan Martabak “AA”-nya yang sejak 1991 bermarkas di Jalan Minangkabau, kini memang telah dikenal segenap lapisan masyarakat yang sering melewati jalan tersebut.
Martabak “AA” yang diawaki 14 orang tersebut, memang terus dibanjiri pelanggannya. Terlebih bila malam Minggu, pelanggannya yang hampir seluruhnya bermobil itu nyaris memacetkan jalan.
Menjawab pertanyaan tentang kiatnya sehingga usahanya terus melambung, Surya menjelaskan, selain tekun juga dalam memilih telor. Jika banyak pedagang membuat martabak menggunakan telor bebek, maka Martabak “AA” menggunakan telor ayam. Soal martabak manis yang banyak penggemarnya, pria itu hanya berucap, “Itu rahasia perusahaan.”
Jika diizinkan Allah, dia berharap bisa membuka cabang Martabak “AA” di tempat lain. Dengan demikian, akan banyak tenaga kerja yang terserap didalamnya.
Soal, karyawannya dia menjelaskan bahwa karyawan yang baru bergabung dengannya memperoleh gaji Rp300.000/bulan bersih. Makan dan tidur telah disediakan. Demikian juga apabila sakit, juga mendapatkan pengobatan secara cuma-cuma.
“Karyawan yang memang sudah dibilang ahli, menerima gaji diatas Rp700.000/bulan, plus tunjangan tambahan pada setiap Sabtu malam. Pengobatan juga kami berikan. Misalnya ada yang kawin pun kami berikan bantuan secukupnya. Dan tunjangan Lebaran sebulan gaji. Setiap tahun atau saat Lebaran kita libur 12 hari, ya liburnya ya hanya setahun sekali,” ujar ayah tiga orang anak masing-masing Telly Malinda, Sherly, dan Sheril yang duduk di bangku Kelas III SMA itu.
Dari hasil mengais rezeki di Jalan Minangkabau, Surya dan keluarganya mampu membeli dua rumah yang dijadikan satu di bilangan Pondok Gede, Bekasi. Bukan hanya itu, sebuah mobil Toyota Kijang keluaran terbaru juga terparkir di rumahnya yang berlantai dua.
Di teras rumahnya yang tertata rapih, terparkir sepeda motor Suzuki keluaran tahun 1985 yang dibelinya seharga Rp250.000, tetap terjaga dan terawat.
Tentang sepeda motor yang sudah menjadi “arwah” bagi Surya, tidak akan dialihkan kepada siapapun.
“Bagi saya motor Suzuki ini merupakan awal perjalanan hidup saya bisa seperti sekarang. Saya akan terus rawat. Sekarang ini perlu diperbaiki dan diganti akinya, saya masih tukang untuk memperbaikinya,” ungkap Surya, tentang sepeda motor kesayangannya.
Yang paling membahagiakan keluarga Surya, adalah prestasi yang diraih putri sulungnya Telly Malinda yang kini menjadi “penghuni” Pelatnas SEA Games Vietnam, di Bandung.
“Telly kemarin masuk Pelatnas Karate untuk SEA Games Vietnam. Itu berarti untuk pertama kalinya bagi anak saya, membela nama Bangsa Indonesia di event SEA Games. Bagi saya Telly, adalah satu-satunya anak yang berprestasi di dunia karate. Dan ia kini menjadi mahasiswa Fakultas Sastra Inggris Universitas Kristen Indonesia (UKI) semester 9. Mudah-mudahan ia mampu menunjukkan prestasi terbaiknya,” harap Surya.

[HTML1]

Komentar
Anda suka? share!