Anda suka? share!


Soto, adalah jenis makanan sejuta umat. Hampir di setiap daerah mempunyai ciri khas makanan yang satu ini. Dari model bening seperti di Jawa Tengah, sampai yang bersantan seperti Soto Betawi misalnya.

Nah, untuk Soto Betawi, ada satu yang lumayan terkenal di Jakarta.
Tepatnya di Jalan Padang, Manggarai, Jakarta Selatan, letaknya diantara toko olahraga dan furniture antik tidak jauh dari Pom Bensin. Tidak begitu mencolok memang, tetapi mudah dikenali karena pada saat jam makan dipenuhi mobil parkir dan juga spanduk bertuliskan ’Soto Betawi Haji Husen’.

Satu porsi soto betawi buatan Husen antara lain berisi potongan paru, babat, daging, serta lidah sapi, yang sebelumnya sudah digoreng. Namun mereka yang memiliki selera khusus bisa memilih menunya sendiri, seperti hanya lidah sapi saja atau paru saja.

Ditemui di sela kesibukannya melayani pelanggan, Husen menuturkan bahwa usaha dagang soto betawi yang digelutinya saat ini adalah usaha turun-temurun dari almarhum Kaiban, ayahnya.

Husen adalah generasi keempat yang meneruskan usaha dagang soto tersebut.
Husen merupakan generasi keempat yang meneruskan usaha dagang soto tersebut, yang pada sekitar tahun 1940-an didirikan oleh ayahnya.

”Setelah bapak saya, dua kakak saya yang melanjutkan usaha ini. Kemudian menurun ke saya sejak tahun 1964 hingga saat ini,” ujar pria asli Pasar Rumput yang saat ini menetap di daerah Beji, Depok.

Semula warung soto yang dikelola Kaiban, ayah Husen, terletak di Jalan Minangkabau, Manggarai. Warung soto tersebut kemudian pindah pada tahun 1960 ke Jalan Padang, masih di wilayah Manggarai, hingga tahun 1970.

”Setelah berdagang di Jalan Padang selama 15 tahun, sekitar tahun 1985 warung pindah ke Jalan Sultan Agung, juga di kawasan Manggarai, dan terakhir pindah ke warung ini tahun 1989 hingga sekarang,” ujar Husen.

Menu andalannya adalah potongan lidah sapi, paru, serta babat yang dicampurkan ke dalam kuah soto yang gurih karena santannya cukup kental, kemudian dicampur dengan racikan bumbu yang pas. Sangat menggugah selera.

”Racikan bumbu yang saya buat memang kuncian dari orangtua saya. Tapi yang jelas kuah sup yang saya hidangkan cukup kental sehingga rasa soto menjadi gurih. Sementara untuk daging, lidah, serta paru sapi, agar empuk sebelum digoreng terlebih dahulu saya rebus,” ujar Husen.

Selalu Habis.
Semula Husen hanya menjual soto betawi dengan daging sapi sebanyak 5 kilogram per hari. Saat itu, sekitar tahun 1989, warungnya juga masih berukuran 3 m x 3 m. Namun lantaran jumlah pelanggannya bertambah banyak, kebutuhan dagingnya juga terus meningkat.

Saat ini, setiap harinya Husen butuh satu kuintal daging sapi serta empat panci besar kuah soto. Untuk bisa menghasilkan kuah soto yang gurih, dalam sehari juga dibutuhkan sedikitnya 60 butir kelapa untuk diambil santannya.

Daging sapi serta kuah soto sebanyak itu ternyata bisa habis terjual hanya sekitar tujuh jam berdagang pada hari Sabtu dan Minggu.

”Kalau Sabtu dan Minggu saya sudah buka sejak pukul 07.00 hingga pukul 17.00. Tapi biasanya soto buatan saya sudah habis terjual sekitar pukul 14.00. Sementara untuk hari biasa pada Senin hingga Kamis, biasanya soto buatan saya baru habis terjual pada pukul 17.00,” ujar Husen yang juga menyebutkan bahwa warungnya tutup pada hari Jumat.

Warung soto betawi itu menjadi salah satu warung yang menjadi pilihan para karyawan saat makan siang. Menurut Husen, biasanya pada hari Senin hingga Kamis, terutama jam-jam menjelang makan siang, pelanggannya sudah antre.

”Awalnya pelanggan yang datang adalah karyawan yang bekerja di sekitar Manggarai, selanjutnya para karyawan dari Kuningan, dan saat ini sudah hampir dari seluruh Jakarta yang datang ke sini,” katanya.

Sementara itu pada Sabtu dan Minggu kebanyakan pelanggannya adalah keluarga yang menikmati liburan. Saking terkenalnya warung makan milik Husen itu, pelanggannya pada Sabtu dan Minggu juga banyak yang berasal dari luar daerah.

”Ada pelanggan dari luar pulau Jawa yang menyempatkan makan di sini. Kebanyakan mereka dari bandara langsung ke sini hanya untuk membeli soto,” ujar Husen yang mematok harga kurang lebih Rp 15.000 untuk satu porsi soto betawi.

[HTML1]

Komentar
Anda suka? share!