Anda suka? share!

Coklat kehitaman dan manis rasanya. Penampilannya memang tidak begitu eksotik  dan cenderung monoton. Cuma rasanya saja yang variatif, namun tetap mengandalkan rasa manis. Sangat tepat menemani minum teh atau kopi pahit  di pagi hari atau menjelang sore. Itulah dodol atau orang Jawa biasa menyebutnya, jenang.

Tidak mudah membuat dodol yang benar-benar menghasilkan kenikmatan berkualitas tinggi, proses pembuatan yang lama serta diperlukan  keahlian yang mumpuni pula.

Bagi orang Betawi dodol sangat kental dengan budayanya. Bahkan tidak bisa dilepaskan dengan hari raya Idul Fitri, Idul Adha atau perayaan lainnya, karena setiap perayaan tersebut digelar selalu terhidang dodol.

Sekarang, Dodol Betawi bisa dikatakan hampir punah karena berkurangnya orang-orang yang mampu membuatnya sehingga harus di appreciate bagi mereka yang masih bertahan untuk terus melestarikan makanan khas betawi ini.

Yang membedakan antara Dodol Betawi dengan dodol dari daerah lainnya yakni Dodol Betawi hanya mempunyai tiga macam rasa yakni ketan putih, ketan hitam dan durian, sedangkan dodol dari daerah lainnya bisa memiliki hingga 12 rasa lebih.

“Dodol Betawi asli itu cuma ada tiga rasa, kalau ada rasa lainnya itu sudah bukan Dodol Betawi. Untuk harga jual Dodol Betawi bervariasi mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 30 Ribu,” ujar Muhammad Zen, salah seorang pembuat Dodol Betawi kepada inijakarta.com.

Satu hal lagi yang membedakannya, proses pembuatannya memakan waktu selama delapan jam lebih lama daripada pembuatan dodol dari daerah lainnya, dan cara pembuatannya juga masih sangat tradisional, menggunakan tungku dan kayu bakar.

Bahan baku dodol pada umumnya sama, yang terdiri dari beras ketan, gula merah, gula putih, santan kelapa. Pemilihan bahan baku sangat mempengaruhi hasil dan rasa. Beras ketan yang digunakan tidak boleh dicampur dengan beras atau campuran lainnya, dan santan yang digunakan juga harus dari kelapa tua bukan yang muda karena akan mempengaruhi keawetannya.

Dari rasanya, Dodol Betawi tidak perlu diragukan lagi. Legit, pastinya ditambah lagi dengan kekenyalannya. Bagi masyarakat  Betawi, dodol yang enak itu kalau sudah timbul bintik-bintik putih. Bintik-bintik putih tersebut dicuil lalu bagian lainnya tinggal dimakan. Bagian luarnya yang sudah agak keras namun bagian dalamnya belum, pada saat seperti inilah baru bisa menikmati dan merasakan Dodol Betawi yang sesungguhnya. Anda mau coba?

Komentar
Anda suka? share!