Anda suka? share!

Gambang Kromong, dulunya sering digunakan masyarakat Tionghoa yang ada di Batavia untuk hiburan pada acara-acara besar seperti pesta pernikahan. Namun eksistensinya kini sudah mulai meredup, akibat serbuan budaya musik barat yang lebih modern tentunya.


 

Alunan nada yang dinamis terdengar dari kejauhan. Iramanya  menarik perhatian kami untuk  mencari dimana sumber suara musik itu. Semakin mendekati semakin jelas terdengar bunyi alat musik seperti gong, gendang dan yang pastinya suara merdu biduan cokek dengan ciri khas suara cengkoknya menyanyikan lagu Jali-jali khas Jakarta.

Ternyata suara musik itu berasal dari sekumpulan seniman musik yang sedang pentas disalah satu pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta. Mereka  membawakan kesenian Betawi yang kini hampir tenggelam dimakan jaman.

Biasanya kesenian musik asli Betawi ini kerap muncul dikemeriahan HUT Kota Jakarta dan acara-acara besar masyarakat asli Betawi.

Tapi, pertanyaannya  apakah masih ada generasi sekarang  yang kenal dengan warisan betawi ini? Sangat disayangkan memang generasi muda kurang banyak yang tahu tentang kesenian ini. Saya pun jujur baru lihat secara langsung live performance Gambang Kromong untuk pertama kalinya, saat di amll tersebut. Antik, unik dan juga klasik, terasa kental kesan yang saya rasakan. Pengaruh kebudayaan China yang pada waktu itu memang punya andil di Batavia (Jakarta tempo dulu).

Bang Sofyan sudah puluhan tahun bersama teman-teman yang tergabung dalam ‘Sanggar Putra Mayang Sari’ turut melestarikan kesenian nenek moyang Betawi. Semuanya mereka mainkan bersama hanya menggunakan feeling tanpa partitur (tangga nada) sebagai panduan.  Hanya berpaku pada ketukkan yang dari alat musik Kecrek.

“Sebutan Gambang Kromong di ambil dari nama dua alat musik perkusi, yaitu gambang dan kromong. Bilahan gambang yang berjumlah 18 buah, biasanya terbuat dari suangking, huru batu, atau akayu jenis lain yang empuk bunyi bila dipukul,” Jelas Bang Sofyan lewat obrolan santai dengan inijakarta.com. Sedangkan kromong biasanya dibuat dari perunggu atau besi, berjumlah 10 buah (sepuluh ‘pencon’).

Gambang Kromong merupakan perpaduan yang serasi antara unsur pribumi dengan unsur China. Ini terlihat secara fisik pada alat musik gesek yaitu Tehyan, Kongahyan, dan Sukong. Untuk alat musik seperti gambang, kromong, gendang, kecrek dan gong sudah pasti ‘made in Indonesia’. Gambang Kromong yang  semula digemari oleh kaum peranakan Cina saja, tapi lantaran adanya proses pembauran, lama kelamaan di gemari pula oleh golongan pribumi.

Di era 70-an popularitas Gambang Kromong semakin meluas, karena mulai banyak seniman musik pop yang ikut terjun berkecipung, di antaranya  Alm. Benyamin S. Alhasil era itu sempat terangkat eksistensinya. Kini keberadaannya mulai terbenam dimakan usia. Untuk menjaganya tetap ada, para seniman Betawi ini memasukan alat musik modern seperti gitar elektrik, bas dan organ. Lagu-lagu yang dibawakannya pun tak hanya lagu Betawi, lagu pop pun dimainkan. Namun dengan penambahan alat musik modern warna suara Gambang kromong msih tetap terdengar, tekenal dengan sebutan “Gambang Kromong Kombinasi”. ES

Komentar
Anda suka? share!