Anda suka? share!

Sejarah merupakan torehan cerita masa lalu yang tak bisa dipisahkan oleh waktu. Banyak kenangan yang tersisa dan terekam hingga sekarang. Bangunan ini salah satu peninggalan bangsa Belanja yang menjadi saksi perjalanan seniman-seniman Nusantara.



Tak akan pernah cukup dengan kata ‘puas’ memutari kota Jakarta yang kini sudah menjelma sebagai kota metropolitan. Kemegahan dan klasik, dua varian inilah suguhan yang menjadi daya tarik kota pusat pemerintahan Republik Indonesia. Selain bangunan pencakar langit yang menjulang tinggi, Anda masih dapat menikmati arsitekur tempo dulu yang sudah pasti mengundang detak kagum.

Salah satunya Stads-Schouwburg (Teater-kota), atau yang kini biasa dikenal dengan nama Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Adalah Daendels, Gubernur Jendral Belanda pada masa itu, orang yang memunculkan ide dibangunya Stads-Schouwburg. Barulah pada tahun 1814 direalisasikan oleh Gubernur Jendral Inggris, Thomas Stamford Raffles. Keberadaannya di Jakarta Pusat, gedung putih yang dibangun dengan gaya empire oleh arsitek para perwira Jeni VOC, Mayor Schultze pada tahun 1821 hingga kini masih kokoh berdiri.

Bangunan ini terasa kental oleh sentuhan arstitektur eropa. Pilar-pilar besar yang menjadi penopang memberikan kesan mewah dan mahakarya bernilai seni tinggi.

Awalnya dahulu ketika gedung ini masih berupa seonggok bangunan berdinding bambu, para petinggi kolonial Inggris mulai menampilkan pertunjukkan seni dan juga pembacaan syair oleh sekelompik seniman. Kemudian pemerintah pun ikut serta ambil bagian dengan mengalokasikan reruntuhan ‘Spinhuis” (dulunya penjara wanita di kawasan Kota) sehingga pada akhirnya gedung megah ini pun berdiri tegak, lantas lahirlah komunitas baru teatrikal yang dibentuk dengan mengusung motto Ut desint vires tamen est laundanda volunas (walau tak berdaya tak seberapa, tapi semangat tetap harus dihargai.

Peresmian gedung ditandai dengan pertunjukkan drama klasik Shakespeare, Othello. Bertepatan pada tahun 1835, sekelompok seniman asal Perancis “menawan” hati para penikmat seni di Batavia (Jakarta). Sejak itulah, seniman yang tidak terlalu laku lagi di Paris diundang untuk bermain di Stads-Schouwburg.

GKJ juga dikenal sebagai gedung komidi. Kenapa? Karena segala jenis pertunjukkan seni ditampilkan  gedung putih ini, antara lain ada drama, komedi, opera, serta wayang. Bangunan serambi besar dengan tiang-tiang atap datar dibagian depan gedung ini, tempat pergelaran yang dapat memenuhi standar pentas kesenian Internasional. Berbagai event diselengarakan untuk menunjang keberadaannya dalam bentuk festival.

Dua event yang paling monumental adalah Art Summit Indonesia. Event tiga tahunan ini telah diselenggarakan sejak 1995 serta Jakarta Internasional Festival of the Performing Art yang diselenggarakan sejak 1990. Kedua festival tersebut diambil sebagai bentuk kepedulian GKJ kepada publik seni pertunjukkan Jakarta serta arena dialoq seni dan kebudayaan antar-bangsa secara artistik maupun intelektual.

Sejarah mencatat, pada masa pendudukkan tentara Dai Nipon, gedung ini dijadikan sebagai markas tentara. Sedangkan pada masa kemerdekaan difungsikan sebagai ruang kuliah untun mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Hukum Universitas Indonesia sekitar tahun 50-an. Dan digedung ini pula pada 29 Agustus 1945, Presiden RI pertama Ir, Soekarno meresmikan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Dan, setelah dikeluarkannya SK Gubernur KDKI Jakarta No. 24/1984, maka bangunan kuno ini dipugar dan dikembalikan ke fungsi semula sebagai pentas kesenian serta ditetapkan namanya menjadi Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).

Kota Jakarta patut bersyukur dengan warisan ini. GKJ sampai saat ini masih menjadi pilihan untuk menggelar acara-acara kesenian. Kapasitasnya tidak terlalu bear, namun arsitekturnya yang cantik membuat semua orang yang pernah berkunjung bahkan tampil di Gedung ini memiliki kebanggaan tersendiri.

Awal tahun 2010 sempat terjadi kebakaran kecil di GKJ, tapi untunglah tidak terjadi kerusakan besar, Sebagai warga Jakarta khususnya, sudah semestinya kita menjaga dan ikut melestarikan peninggalan bersejarah ini. Agar bisa dinikmati putra-putri generasi penerus kelak nantinya. (ES)

Komentar
Anda suka? share!