Anda suka? share!

Mendengar nama Jakarta, identik dengan gedung yang menjulang tinggi dan pastinya modern. Sebagai icon Ibu Kota negara, Jakarta telah berkembang menjadi kota besar yang menawarkan surga dunia. Tidak hanya mall atau pusat perbelanjaan, Jakarta juga menyimpan pesona bangunan Kota Tua-nya.


Sabtu pagi itu begitu  cerah. Membawa saya untuk bergegas menyusuri kota-kota tua di kawasan Ibu Kota tercinta ini.   Situs peninggalan sejarah di masa keemasan Belanda, masih berdiri kokoh di Kota Jakarta ini.

Sayangnya banyak di antara bangunan tua yang masih berdiri disini, sudah tidak berfungsi dan rusak dimakan jaman. Teronggok begitu saja. Padahal bangunan-bangunan ini merupakan saksi sejarah kota yang dahulunya dikenal dengan sebutan Batavia ini. Namun, meskipun demikian tetap saja tidak mengurangi minat masyarakat berkunjung ke Kota Tua itu.

Emerita (23) misalnya. Mahasiswi, jurusan tata rias di salah satu Universitas Jakarta sengaja datang jauh-jauh dari Bogor untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Bersama beberapa temannya, Emerita membuat photo session menonjolkan make up karya mereka. “Saya sengaja memilih Kota Tua, karena tiap sudut bisa digunakan untuk objek penunjang photo. Selain itu unik dan gratis,” Ungkap Emerita kepada inijakarta.com

Memasuki kawasan Kota Tua, Anda akan merasakan kentalnya suasana jaman kolonial Belanda yang selama 350 tahun menjajah Indonesia. Jalan yang tertata rapih dari conblok, bersih dan tentunya kaya akan nilai sejarah. Salah satu bangunan yang masih kokoh berdiri adalah Museum Sejarah Jakarta atau banyak dikenal dengan Museum Fatahillah.

Dulunya Museum Fatahillah merupakan Balai kota yang dalam bahasa Belandanya disebut Staadhuis. Bangunan ini pertama kali dibangun pada tahun 1707 oleh Petronella Wilhelmina van Horn putri Gubernur Jendaral Hindia memakan waktu 3 tahun untuk menyelesaikannya. Sebagai Staadhuis, bangunan ini dahulu dipakai sebagai kantor, ruang pengadilan, dan penjara (bawah tanah).

Jika Anda masuk kedalam Museum Fatahillah, dapat Anda jumpai mata uang zaman VOC, perabotan rumah tangga seperti furniture dari abad 17-19., merian kuno, bendera zaman Fatahillah, lukisan Raden Saleh, serta Potret Gubernur Jendral VOC jaman Belanda waktu berkuasa disini. Di belakang museum terdapat Lima unit penjara berdinding beton, berjeruji besi, dilengkapi bola besi 100kg sebesar bola voli untuk mengikat kaki para napi. Bicara tentang penjara bawah tanah, bisa dibilang ini termasuk dalam penjara yang paling sadis pada era-nya.

Museum yang diresmikan tahun 1974 oleh Gubernur Ali Sadikin ini, Pelataran museum fatahillah yang sekarang tentunya sudah mengalami perubahan dari masa sebelumnya biasanya selalu ramai dikunjungi pada hari libur seperti sabtu minggu. Dengan luas 13.000 meter persegi terlihat beragam aktivitas nampak disini, seperti mengelilingi kota tua dengan sepeda ontel, penjaja makanan, pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran serta para pecinta photography sedang mengabadikan kota tua  lewat kamera. Nampak mereka sangat menikmati suasana Kota Tua yang selalu membuat orang akan kembali lagi mengunjunginya. ES

Komentar
Anda suka? share!