Anda suka? share!

Sebagai Ibukota Provinsi Jawa Tengah, Semarang merupakan kota transit para pebisnis yang sudah ada sejak zaman dahulu. Berawal pada abad ke 8 M, pelabuhan di kota Semarang sudah ramai dikunjungi para pedagang dari berbagai negeri. Hingga zaman penjajahan, Semarang merupakan kota yang ideal sebagai gerbang masuk menuju kota-kota lain di Jawa Tengah. Pelabuhan Tanjung Emas Semarang menjadi ajang kegiatan bongkar muat untuk kemudian diangkut menuju kota-kota lain. Tak heran bila kemudian Semarang lebih dikenal sebagai Kota Transit daripada Kota Wisata. Tapi bukan berarti Semarang tidak memiliki tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Ada bangunan bersejarah seperti Tugu Muda. Tugu ini dibangun sebagai monumen untuk mengenang heroisme pejuang Semarang melawan penjajah Jepang. Kemudian ada Gereja Blenduk yang merupakan peninggalan Belanda. Museum-museum seperti Museum Ronggowarsito, Museum mandala Bakti, Museum Nyonya Meneer, Museum Jamu Jago dan Muri.

Begitu banyak bangunan bersejarah di kota Semarang hingga satu diantaranya sangat terkenal karena memiliki misteri magis yang menjadi daya tarik para wisatawan untuk melihatnya dari dekat. Lawang Sewu……Sebuah gedung yang berdiri kokoh dan angker tepat di kawasan Tugu Muda pusat Kota Semarang. Pada masa peperangan dulu, gedung Lawang Sewu menjadi ajang penyiksaan dan pembantaian. Tidak jelas berapa nyawa telah melayang, tapi jumlahnya bisa dipastikan mencapai ribuan. Hantu korban pembantaian itulah yang konon kabarnya suka menampakan wujud. Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu), Ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang banyak sekali tapi dalam kenyataannya jumlah pintu yang ada tidak sampai seribu, mungkin juga karena jendela bangunan ini tinggi dan lebar, masyarakat juga menganggapnya sebagai pintu.

Di sebelah barat daya kota Semarang daerah Simongan, Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong ikut mewarnai sejarah perkembangan kota dengan masuknya etnis Tionghoa pada abad 15. Kelenteng tersebut adalah sebuah petilasan tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan kawin dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang ditempat itu. Zheng He memberikan pelajaran bercocok-tanam serta menyebarkan ajaran-ajaran Islam. Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Masyarakat etnis Tionghoa Semarang menganggap bangunan itu adalah sebuah kelenteng tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah.

Hhmmm….walaupun Semarang kaline banjir tapi tetap unik….

Komentar
Anda suka? share!