Anda suka? share!

Penatnya perjalanan Surabaya – Probolinggo seakan lenyap saat hawa sejuk menyelimuti tubuh ini serta suguhan pemandangan hamparan pasir seluas sekitar 5.250 terhampar begitu indah didepan mata. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merupakan satu-satunya kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki keunikan berupa laut an pasir yang berada diketinggian ± 2.100 meter dari permukaan laut. Gunung Bromo sendiri tingginya 2.392 meter di atas permukaan laut. Untuk masuk ke wilayah ini dapat melalui Pasuruan dan Probolinggo, tapi bagi para pendaki biasanya mereka lebih menyukai lewat Lumajang dan Ranu Pani  dengan mendaki gunung Semeru terlebih dahulu.

Penduduk asli kawasan gunung Bromo adalah Suku Tengger yang beragama Hindu, menurut mitos dahulu di pulau Jawa di perintah oleh Raja Brawijaya dari Majapahit yang mempunyai anak perempuan bernama Roro Anteng yang menikah dengan Joko Seger, keturunan Brahmana. Ketika terjadi pergolakan di pulau Jawa, sebagian masyarakat yang setia pada agama Hindu melarikan diri ke pulau Bali. Sebagian lainnya menarik diri dari dunia keramaian dan bermukim di sebuah dataran tinggi di kaki Gunung Bromo, dipimpin oleh Roro Anteng dan Joko Seger, jadilah mereka suku Tengger, kependekan dari AnTeng dan SeGer.

Masyarakat Suku Tengger rutin menggelar Upacara Kesodo setiap tahunnya (Desember/Januari) saat bulan purnama penuh.  Melalui upacara tersebut mereka memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit. Upacara dilakukan dengan cara mempersembahkan sesaji dengan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo. Masyarakat Tengger lainnya harus menuruni tebing kawah dan meraih untuk menangkap sesaji yang dilemparkan ke dalam kawah, sebagai perlambang berkah dari Yang Maha Kuasa.

Pukul 3 dini hari kami mulai bersiap tuk melihat matahari terbit dari puncak Penanjakan, hawa dingin begitu menusuk tulang, jaket berlapis 2 pun seolah tak mampu menepis dinginnya udara sekitar 5 derajat celcius. Dengan berkendaraan jeep berpenggerak 4 roda mulai mengarungi lautan pasir yang gelap gulita, hanya patok kayu yang menjadi petunjuk agar kita tidak tersesat di tengah gurun. Usai melewati gurun pasir saatnya melewati jalanan menanjak yang curam dengan jurang menganga di salah satu sisinya, disinilah penggerak 4 roda itu berfungsi penuh melalap setiap tanjakan yang menantang.

Diujung perjalanan hari masih gelap, segelas wedang jahe dan mie instant terasa sedikit menghangatkan badan yang mulai membeku. Perjalananpun dilanjutkan dengan berjalan kaki menaiki anak tangga menuju puncak Penanjakan. Sudah terlihat ramai para wisatawan baik dalam maupun luar negeri berkumpul menanti munculnya sang surya di balik kabut Gunung Bromo yang eksotis. Pukul 5 pagi mulai Nampak semburat kemerahan di ufuk, pertanda bola api itu mulai menggeliat dari peraduannya. Spontan terdengar suara decak kagum dari para penikmat keindahan lukisan alam ini. Suara shuter kamerapun bersautan silih berganti seolah tak mau lepas dari momen menakjubkan.

Pemandangan alam nan cantik terpampang di depan mata, Gunung batok berdiri gagah di atas lautan pasir berdampingan dengan Gunung Bromo yang mengepulkan asap pertanda masih aktif, berlatar belakang matahari pagi dan birunya langit dengan kabut tipis yang selalu menyelimuti. Perburuan keindahan alam inipun kami lanjutkan dengan mendekati Gunung Bromo melalui rute semula. Dipintu masuk Kawah Bromo kami disambut sebuah bangunan Pura yang megah bersebrangan dengan gunung batok, kendaraan yang kami tumpangipun berhenti karena harus melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda sampai anak tangga Kawah Bromo.

Seperti halnya asal usul nama Tengger, Gunung Batok memiliki cerita tersendiri. Konon Gunung Batok terbentuk akibat lemparan batok (tempurung kelapa) yang digunakan untuk mengeruk pasir oleh seorang Bajak Laut yang sakti karena gagal memenuhi janjinya kepada Roro Anteng. Janji tersebut adalah membuat lautan di tengah-tengah gunung sebagai syarat melamar Roro Anteng. Cerita Roro Anteng ini mirip dengan Legenda Roro Jonggrang di Candi Prambanan.

Tiba saatnya kami harus menaiki anak tangga yang berjumlah 250 buah untuk menuju puncak Kawah Gunung Bromo . Udara dingin dan rendahnya kadar oksigen pada tempat yang tinggi membuat tubuh kami cepat lelah. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

Inillah puncak acara perburuan kami, belum puas rasanya and………..i’ll be back!!

Komentar
Anda suka? share!